mediawininvestigasi.com
SUKABUMI – Warisan budaya dan kearifan lokal bukan sekadar peninggalan leluhur yang harus dilestarikan, melainkan juga memiliki potensi besar sebagai kekuatan strategis dalam memperkuat jati diri bangsa, ketahanan nasional, hingga diplomasi pertahanan di tingkat regional dan internasional.
Hal tersebut disampaikan Ujang Supriatin, yang akrab disapa Abah Ujang Guru, seorang tokoh budaya dan spiritual, pelaku seni bela diri pencak silat dan debus, sekaligus tokoh buruh nasional yang menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja (FSP) Maritim Indonesia.
Menurut Ujang, Indonesia memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai instrumen soft power atau kekuatan lunak dalam membangun hubungan yang harmonis antarnegara. Pendekatan ini dinilai relevan, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik yang memiliki keragaman budaya serta dinamika geopolitik yang kompleks.
“Budaya bukan hanya identitas suatu bangsa, tetapi juga dapat menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan, mempererat persahabatan, dan meredakan ketegangan antarnegara. Diplomasi tidak selalu harus mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga dapat dilakukan melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal,” ungkap Ujang.
Ia menjelaskan, pemanfaatan warisan budaya dalam diplomasi pertahanan dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari pertukaran seni dan budaya, pengenalan falsafah hidup masyarakat, hingga peningkatan pemahaman budaya dalam kerja sama pertahanan antarnegara.
Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, Bhinneka Tunggal Ika, persatuan, serta semangat menghormati perbedaan dinilai memiliki relevansi dalam membangun hubungan yang saling menghargai. Nilai tersebut juga dapat menjadi landasan dalam memperkuat kepercayaan atau confidence-building measures di antara negara-negara kawasan.
Selain itu, pertukaran budaya melalui festival seni, pameran sejarah, musik tradisional, serta pengenalan produk budaya seperti batik dan keris dapat menjadi bagian dari diplomasi yang memperkuat persahabatan dan memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia internasional.
Pencak Silat Memiliki Peran Strategis bagi Bangsa
Sebagai tokoh yang telah berkecimpung selama puluhan tahun dalam dunia budaya dan seni bela diri, Ujang menilai pencak silat memiliki nilai strategis yang jauh melampaui aspek olahraga maupun kemampuan bela diri semata.
Pencak silat mengandung nilai kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, penghormatan terhadap sesama, serta tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, dapat menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan budaya bangsa.
Ujang juga dipercaya menjadi salah satu pengurus DPP Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia. Ia menyebut kiprah organisasi dan jaringan pencak silat yang telah berkembang di 17 provinsi di Indonesia sebagai potensi untuk memperluas pelestarian budaya sekaligus memperkuat persatuan nasional.
Pengakuan UNESCO terhadap pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2019 menjadi salah satu bukti bahwa seni bela diri tradisional Indonesia memiliki nilai budaya yang diakui secara internasional.
Menurut Ujang, pengakuan tersebut harus menjadi motivasi untuk terus menjaga keaslian, nilai filosofis, serta keberlanjutan pencak silat agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
“Pencak silat bukan sekadar kemampuan bertarung. Di dalamnya ada pendidikan karakter, penghormatan, persaudaraan, dan pengendalian diri. Nilai-nilai inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda,” tegasnya.
Budaya Maritim dan Jati Diri Bangsa Indonesia
Hal menarik lainnya yang menjadi perhatian Ujang adalah keterkaitan erat antara budaya dan maritim. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sejarah panjang yang membentuk masyarakat dengan identitas, tradisi, serta pengetahuan yang tumbuh dari kehidupan di laut.
Menurutnya, laut tidak seharusnya dipandanghanya sebagai bentang alam atau pemisah antarpulau. Bagi masyarakat pesisir dan kepulauan, laut merupakan sumber kehidupan, jalur penghubung, ruang interaksi sosial, sekaligus bagian penting dari jati diri bangsa.
Keterhubungan masyarakat dengan laut telah melahirkan budaya maritim yang kaya, mulai dari tradisi, sistem kepercayaan, teknologi pelayaran tradisional, hingga pengetahuan lokal dalam membaca kondisi alam.
Berbagai tradisi seperti Petik Laut dan Sedekah Laut menjadi contoh ekspresi budaya masyarakat pesisir yang diwariskan secara turun-temurun. Di sisi lain, kemampuan masyarakat dalam membuat kapal tradisional, memahami arah angin, membaca arus laut, serta mengenali kondisi alam merupakan bagian dari kearifan lokal yang memiliki nilai pengetahuan tinggi.
“Budaya maritim dan identitas bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan. Laut telah membentuk cara hidup, karakter, dan kebudayaan masyarakat kita. Karena itu, kesadaran sebagai bangsa maritim harus terus diperkuat,” jelasnya.
Ujang menilai, pelestarian budaya maritim tidak hanya penting untuk menjaga tradisi, tetapi juga dapat mendukung pembangunan nasional, memperkuat kesadaran kebaharian, serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keamanan dan keberlanjutan wilayah pesisir.
Kearifan Lokal untuk Perdamaian dan Ketahanan Kawasan
Lebih jauh, Ujang memandang kearifan lokal dapat berkontribusi dalam mendukung penyelesaian konflik sosial, penguatan hubungan masyarakat lintas perbatasan, hingga kerja sama penanggulangan bencana di tingkat regional.
Pengalaman masyarakat lokal dalam menghadapi bencana, misalnya, dapat dibagikan kepada negara lain sebagai bentuk pertukaran pengetahuan.
Salah satu contohnya adalah kearifan lokal Smong dari Simeulue, Aceh, yang mengajarkan masyarakat mengenali tanda-tanda alam dan segera menyelamatkan diri ketika terjadi potensi tsunami.
Pengetahuan semacam ini dapat menjadi bagian dari pembelajaran bersama dalam upaya mitigasi bencana dan kerja sama kemanusiaan antarnegara.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan budaya harus dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap asal-usul, nilai, dan masyarakat pemilik tradisi. Pelestarian budaya juga perlu dijauhkan dari kepentingan yang dapat memicu klaim sepihak maupun perselisihan antarkelompok.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sinergi berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pertahanan, lembaga pendidikan, komunitas budaya, organisasi pencak silat, serta masyarakat pesisir.
Memperkuat Indonesia sebagai Bangsa yang Berbudaya dan Maritim
Ujang Supriatin menegaskan bahwa budaya, pencak silat, dan kemaritiman merupakan tiga unsur yang memiliki keterkaitan erat dalam membangun karakter serta ketahanan bangsa Indonesia.
Budaya memberikan landasan nilai dan identitas, pencak silat menjadi sarana pembentukan karakter dan kedisiplinan, sedangkan budaya maritim mencerminkan hubungan historis masyarakat Indonesia dengan laut sebagai ruang kehidupan dan persatuan.
Ia berharap kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai simbol kebanggaan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kekuatan nyata melalui pendidikan, diplomasi budaya, pelestarian tradisi, dan penguatan kesadaran kebangsaan.
“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kita menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkannya secara bijak untuk memperkuat persatuan, membangun perdamaian, serta menjaga ketahanan bangsa. Budaya bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan kekuatan strategis untuk menghadapi masa depan,” pungkasnya.
Dengan demikian, pelestarian warisan budaya dan kearifan lokal perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan bangsa. Melalui kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, pelaku budaya, dan generasi muda, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat identitasnya sebagai bangsa yang berbudaya, tangguh, dan berorientasi maritim.(Resi)







